Sman4banjarbaru’s Weblog

April 21, 2008

KUN FA YA KUN Sebagai Proses Pembelajaran

Filed under: Artikel,Guru Menulis — sman4banjarbaru @ 2:15 am

“Innamaa amruhuu idzaa araada syai-an yaquula lahuu kun fayakuunu”

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya
Jadilah ! ” maka terjadilah ia.
Sebait ayat yang terdapat dalam Surah Yaa siin ayat 82 yang diambil judul untuk film religius
kali ini buah karya da’i muda H. Yusuf Mansur yang mengangkat cerita kehidupan ekonomi kelas bawah yang selama ini hampir tidak banyak terfokus dalam perfilman Indonesia yang lebih banyak bertemakan horor, cinta yang berbau adegan syur yang berlebihan dan tidak banyak memperoleh faidah bagi si penontonnya namun dengan adanya film religius yang mulai semarak dilayar lebar Indonesia menjadi wahana baru yang menyegarkan.

Demikian juga dengan film religius yang satu ini, tak kalah menariknya dengan Ayat-ayat cinta namun untuk film Kun Fayakuun lebih banyak menitik beratkan bagaimana cara kita bersyukur sebagai umat ciptaan Sang Khalik karena semua yang ada dibumi ini adalah ciptaan-Nya dan apa yang dia inginkan maka akan terjadi sesuai dengan keinginan-Nya.
Bahwa Tuhan itu tidak mungkin memberikan suatu cobaan kepada hambanya melebihi batas kemampuan umatnya. selama umat itu mau berusaha dan berdo’a . Didalam film ini(kun fayakuun) dapat kita lihat kehidupan sebuah keluarga penjual kaca dan pigura yang dalam berjualannya hanya mengunakan gerobak yang ia dorong sendiri sementara sang istri walaupun suami tidak memperoleh rezeki pada hari itu masih bisa memberikan senyumannya kepada sang suami tercinta. walaupun didalam hatinya ada kepedihan yang mendalam melihat kehidupan keluarganya dengan dua orang anak yang harus mereka besarkan. sementara untuk esok hari sudah tidak ada lagi persediaan uang. Ikhtiar sholat malampun ditempuh untuk memohon rezeki demi keluarga dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga sedangkan untuk istri,amanah yang ia berikan janganlah meminjam uang kepada orang lain karena ia masih mampu untuk berusaha. Amanah ini pun sangat dijaga oleh sang istri.
Namun ternyata takdir berkata lain disaat rezeki sudah didepan mata petakapun timbul cermin yang semula akan dibeli orang ternyata pecah oleh kejadiaan tauran pelajar. Sipenjual kaca pun teramat marah, sedih, kecewa dan terbayang olehnya keluarganya yang menunggu dirumah akan kelaparan. Pada saat itu hatinya penuh dengan hujatan kepada Tuhan, kenapa ini harus terjadi kepada dirinya. Sementara itu dirumah, anaknya yang tertua ternyata mengetahui kalau orang tuanya sudah tidak mempunyai biaya untuk hidup karena tanpa disengaja dia mendengar pembicaraan ibunya kepada tetangga yang mau mengajak ibunya kepasar. Pada saat itu sang tetangga mau mengasih pinjaman uang. akan tetapi ibu tetap memegang amanah yang bapaknya berikan yaitu untuk tidak berhutang. Sang anakpun berinisiatif untuk memohon bantuan kepada Sang Pemberi rezeki dan diapun berangkat untuk sholat dzuhur kemasjid dekat sekolahnya yang lumayan jauh walaupun dikampungnya ada mushala karena ia ingin mendapatkan pahala yang lebih. Ternyata Tuhan mempertemukannya dengan seorang bapak yang saat itu sedang kesusahan karena sendal dan payungnya hilang yang telah dicuri orang. Namun bapak itupun disaat mengetahui barangnya hilang ia masih bisa tersenyum tanpa mengeluarkan amarah. Sang bapak tua pun kembali masuk kedalam masjid untuk menunggu hujan reda sambil memperhatikan anak si penjual kaca yang sedang khusyu berdoa memohon kepada Tuhan agar bapaknya diberikan rezeki. Hal ini ia tanyakan kepada anak itu setelah ia selesai berdoa. Bapak tua menanyakan apa doa yang ia panjatkan sehingga ia begitu khusyu.Anak itupun menceritakan bahwa orang tuanya saat ini sedang mengalami kesusahan karena tidak mempunyai uang untuk membeli makanan,dia juga bertanya kepada bapak itu kenapa ia belum pulang. Bapak tua pun menceritakan kejadian yang dialaminya, ternyata anak si penjual kaca dengan ringan tangan bersedia untuk mengantar si bapak dengan payungnya dan diapun meminjamkan sendal kepada bapak itu untuk dipakainya, ternyata tanpa diduganya bapak itu memberinya uang untuk diberikan kepada orang tuanya dengan perasaan yang gembira sambil mengucapkan syukur kehadirat-Nya.Ia berlari pulang untuk menyerahkan uang itu untuk dapat digunakan oleh ibunya.
Kalau kita renungkan dalam cuplikan film tadi banyak pembelajaran yang dapat kita ambil sebagai makhluk Ciptaan Sang Khalik bahwa didalam dunia harus ada keseimbangan dalam berbuat dan bertindak agar saat timbangan kita dihari akhir di periksa dapat seimbang. Untuk film Kun fayakuun ini bukan hanya diperuntukkan bagi orang dewasa akan tetapi juga untuk anak-anak dimana mereka dapat memperoleh pembelajaran mengenai suatu kehidupan dan bagaimana cara mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta.
Oleh karena itu kami selaku penulis menghimbau kepada orang tua bahwa film ini sangat bagus untuk dijadikan bahan pembelajaran bagi anak-anak kerena tanpa mereka sadari kita telah memberikan suatu pembelajaran tanpa mereka merasa dipaksa dan digurui.
Untuk film yang satu ini dapat kita ajungkan jempol untuk da’i muda H. Yusuf Mansur karena didalam penulisan dan penyajiannya tidak ada target keduniaan yang ia utamakan tetapi akhirat dan umatnyalah menjadikan visi dan misinya.
Mudah-mudahan setelah film ini usai ditayangkan banyak faedah dan manfaat yang didapat demikian juga para pemainnya mendapatkan pahala yang setimpal dan untuk insan perfilman Indonesia berikanlah yang terbaik untuk negara ini bukan hanya tayangan yang berbau mistik, kekerasan dan sex yang akhirnya menjadikan generasi kita menjadi orang-orang yang selalu menghalalkan segala cara dan menjadi orang yang suka akan kekerasan.
Hidup tanpa didasari oleh agama yang menjadikan pilar dalam kehidupan bagaikan hidup tanpa pegangan seperti rumah tak bertiang sedangkan hidup tanpa masalah bukanlah suatu kehidupan oleh karena itu agama merupakan air penyejuk didalam hidup ini.

Penulis: LEILA FAKHIR SYAIFULLAH Guru Bimbingan Konseling di SMAN 4 Banjarbaru

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: